Serial Mendidik Anak dengan Cara Nabi ﷺ — Pertemuan 3
Berilmu Sebelum Mendidik
Ustadz Hervi Firdaus, Lc.
15 Agustus 2026 • ±21 menit
Manhaj at-Tarbiyah an-Nabawiyyah lil-Thifl — karya Syaikh Muhammad Nur bin Abdul Hafizh Suwaid rahimahullah
Rangkuman Singkat
Mendidik anak merupakan bagian dari amanah yang Allah berikan kepada orang tua. Tujuan akhirnya bukan sekadar membuat anak memiliki kebiasaan baik, berprestasi, atau mudah diarahkan, tetapi menjaga diri dan keluarga agar tetap berada di jalan Allah dan selamat dari api neraka.
Namun seseorang tidak dapat memberikan sesuatu yang tidak ia miliki. Orang tua yang ingin mengajarkan salat perlu belajar salat. Orang tua yang ingin anak mencintai Al-Qur'an perlu lebih dahulu dekat dengan Al-Qur'an. Orang tua yang ingin anak menjaga lisan perlu memperlihatkan bagaimana lisannya sendiri dijaga.
Karena itu, pondasi pertama yang dibahas dalam kajian ini adalah al-qudwah al-hasanah: keteladanan yang baik. Anak bukan hanya mendengar nasihat orang tua. Ia mengamati cara orang tua salat, berbicara, marah, berdoa, makan, memperlakukan orang lain, menggunakan waktu, dan menghadapi masalah. Kebaikan maupun keburukan dapat sama-sama terekam.
Keteladanan tidak dibangun hanya dengan niat. Orang tua perlu banyak berdoa, melatih kesabaran, bersungguh-sungguh memperbaiki diri, memilih lingkungan yang baik untuk anak, serta terus mengingat bahwa mendidik keluarga merupakan bagian dari ibadah.
Pondasi kedua adalah memahami waktu yang tepat dalam mendidik anak. Nasihat yang benar dapat sulit diterima apabila diberikan pada waktu dan dengan cara yang keliru. Dalam kajian disebutkan tiga keadaan yang dicontohkan dalam sunnah sebagai kesempatan yang baik untuk berbicara kepada anak: ketika sedang bersantai atau bepergian, ketika makan, dan ketika anak sedang sakit.
Pendidikan anak karena itu tidak hanya berbicara tentang apa yang harus diajarkan. Orang tua juga perlu belajar siapa yang terlebih dahulu harus berubah, bagaimana memberikan contoh, kapan berbicara, kapan diam, dan bagaimana memilih keadaan agar nasihat lebih mudah masuk ke hati anak.
Catatan Kajian
Bekal Sebelum Memasuki Delapan Pondasi
Mendidik Keluarga adalah Amanah untuk Menyelamatkan dari Api Neraka
Pembahasan kembali dimulai dari perintah Allah kepada orang-orang beriman:
"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka."
QS. At-Tahrim: 6
Ketika Allah memanggil dengan kalimat "Wahai orang-orang yang beriman", seorang mukmin perlu bersiap mendengar perintah atau larangan yang datang setelahnya.
Dalam ayat ini, Allah memerintahkan agar seseorang menjaga dirinya terlebih dahulu, kemudian keluarganya.
Artinya, pendidikan keluarga bukan sekadar proyek pengasuhan. Ia merupakan bagian dari kewajiban seorang muslim untuk berusaha menyelamatkan diri dan keluarganya dari siksa Allah.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya."
HR. al-Bukhari dan Muslim
Di dalam rumah, ayah dan ibu memiliki amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Karena itu, urusan mendidik anak tidak dapat dipandang sebagai perkara tambahan yang dilakukan ketika sempat. Ia merupakan bagian dari tanggung jawab yang melekat pada kehidupan keluarga.
Allah Telah Memberikan Fitrah, Orang Tua Bertugas Menjaganya
Allah Ta'ala berfirman:
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."
QS. Ar-Rum: 30
Manusia diberikan fitrah oleh Allah. Tugas pendidikan adalah menjaga, merawat, dan mengarahkan fitrah tersebut agar tumbuh dengan baik.
Dalam kajian disebutkan perumpamaan dari Imam al-Ghazali rahimahullah: seorang pendidik seperti petani yang merawat tanamannya.
Petani tidak hanya menunggu tanaman tumbuh. Ia:
- membersihkan tanaman pengganggu;
- mencabut duri;
- melindungi dari hama;
- merawat secara terus-menerus;
- dan menjaga agar sesuatu yang merusak tidak dibiarkan berkembang.
Begitu pula orang tua.
Anak tidak cukup hanya diberi makanan, tempat tinggal, dan sekolah. Orang tua juga perlu memperhatikan apa yang sedang tumbuh di dalam diri anak, apa yang memengaruhinya, dan apa yang berpotensi merusak fitrahnya.
Sebelum Mengajar Anak, Orang Tua Harus Belajar
Di dalam kitab, pondasi pendidikan yang berkaitan dengan orang tua dibangun dari arahan Nabi ﷺ:
"Ajarkanlah, mudahkanlah dan jangan mempersulit. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam."
Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma dalam Musnad Ahmad.
Prinsip lain yang juga disebutkan dalam kajian adalah:
"Mudahkanlah dan jangan mempersulit. Berilah kabar yang menggembirakan dan jangan membuat orang menjauh."
HR. al-Bukhari dan Muslim
Kalimat pertama adalah "ajarkanlah."
Pertanyaannya: bagaimana seseorang dapat mengajarkan sesuatu yang ia sendiri belum mengetahui?
Dalam kajian disebutkan kaidah:
Orang yang tidak memiliki sesuatu tidak dapat memberikannya kepada orang lain.
Karena itu, mengajar anak harus didahului dengan belajar.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa salah satu tujuan pertama menuntut ilmu adalah mengangkat kebodohan dari diri sendiri, kemudian setelah itu membantu mengangkat kebodohan dari orang lain.
Contohnya sangat dekat dengan kehidupan keluarga:
- ingin mengajarkan salat, tetapi orang tua sendiri belum mempelajari salat dengan benar;
- ingin anak dapat membaca Al-Qur'an, tetapi orang tua tidak berusaha belajar membacanya;
- ingin anak menghafal doa sehari-hari, tetapi orang tua sendiri tidak mengenal doa tersebut;
- ingin anak memiliki adab tertentu, tetapi adab itu tidak terlihat dalam perilaku ayah dan ibunya.
Orang tua tetap dapat belajar bersama anak. Namun jangan sampai pendidikan hanya berbentuk tuntutan:
sementara anak tidak pernah melihat orang tuanya berusaha menghafal.
Pendidikan Harus Memudahkan, Bukan Membuat Anak Menjauh
Setelah perintah untuk mengajar, Nabi ﷺ mengajarkan prinsip memudahkan.
Jika suatu cara terlalu berat bagi anak, orang tua perlu mencari cara lain yang lebih mudah tanpa mengubah kebenaran yang harus diajarkan.
Memudahkan bukan berarti menghapus kewajiban.
Memudahkan berarti memikirkan:
- bahasa yang dapat dipahami anak;
- tahapan yang sesuai;
- metode yang lebih mudah dilakukan;
- waktu yang lebih tepat;
- dan cara menyampaikan yang tidak membuat anak menjauh dari kebaikan.
Prinsip "basyyiru wa la tunaffiru" juga mengingatkan agar pendidikan tidak membuat anak merasa bahwa agama hanya berisi bentakan, ancaman, dan tekanan.
Nasihat yang benar dapat kehilangan pengaruh apabila cara menyampaikannya membuat anak takut untuk mendekat.
Karena itu, orang tua bukan hanya perlu bertanya:
tetapi juga:
Ketika Marah, Salah Satu Pendidikan Terbaik adalah Diam
Nabi ﷺ mengajarkan:
"Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam."
Ketika marah, salah satu ujian terbesar manusia berada pada lisannya.
Dalam keadaan emosi, seseorang dapat:
- membentak;
- menghina;
- memberikan label buruk;
- mengatakan sesuatu secara berlebihan;
- atau mengeluarkan kalimat yang sebenarnya tidak pantas diucapkan.
Di dalam rumah, ucapan tersebut tidak berhenti pada diri orang tua. Anak mendengarnya dan dapat merekamnya sebagai bagian dari cara manusia berbicara ketika marah.
Karena itu, diam ketika marah bukan sekadar cara mengendalikan emosi.
Ia juga merupakan bentuk pendidikan.
Anak melihat bahwa marah tidak harus diikuti dengan teriakan, kata kasar, atau tindakan yang menyakitkan.
Pondasi 1 dari 8: Al-Qudwah Al-Hasanah
Orang Tua Harus Menjadi Contoh yang Baik
Pondasi pertama yang dibahas adalah al-qudwah al-hasanah: keteladanan yang baik.
Anak menjadikan orang tua sebagai salah satu cermin pertama dalam kehidupannya.
Ia belajar tidak hanya dari instruksi, tetapi dari sesuatu yang terus berulang di hadapannya.
Allah banyak menghadirkan kisah dalam Al-Qur'an agar manusia mengambil pelajaran.
Allah Ta'ala berfirman:
"Sungguh, pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal."
QS. Yusuf: 111
Orang tua yang ingin menjadi teladan juga harus terlebih dahulu menjadi orang yang pandai mengambil pelajaran.
Ia belajar dari:
- Al-Qur'an;
- sunnah Rasulullah ﷺ;
- kisah para nabi;
- pengalaman orang lain;
- kesalahan masa lalu;
- dan kejadian yang ia alami sendiri.
Dalam kajian dicontohkan kisah Nabi Musa alaihissalam yang diperintahkan belajar kepada Khidir. Perjalanan tersebut mengajarkan bahwa ilmu membutuhkan kerendahan hati, usaha, perjalanan, dan kesabaran.
Dibahas pula kisah Nabi Nuh alaihissalam yang tinggal bersama kaumnya selama seribu tahun kurang lima puluh tahun.
Allah Ta'ala berfirman:
"Sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia tinggal bersama mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun."
QS. Al-'Ankabut: 14
Kisah para nabi bukan hanya untuk diketahui. Ia menjadi ibrah: pelajaran yang dipakai untuk menghadapi kehidupan.
Orang tua pun perlu terus mengambil pelajaran agar kesalahan yang sama tidak selalu berulang di dalam keluarga.
Rasulullah ﷺ dan Nabi Ibrahim alaihissalam adalah Teladan
Allah Ta'ala berfirman:
"Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian."
QS. Al-Ahzab: 21
Allah juga menyebut Nabi Ibrahim alaihissalam sebagai teladan.
Menjadi teladan memang berat.
Orang tua tidak akan selalu berhasil, tidak akan selalu tenang, dan tidak akan selalu melakukan hal yang tepat.
Namun tuntutan keteladanan membuat orang tua terus bertanya kepada dirinya:
- apa yang anak lihat dari salat saya?
- apa yang anak dengar ketika saya marah?
- bagaimana saya berbicara kepada pasangan?
- bagaimana saya bersikap ketika lelah?
- bagaimana saya memperlakukan orang lain?
- apakah kebiasaan saya sama dengan kebiasaan yang saya tuntut dari anak?
Keteladanan bukan berarti orang tua tidak pernah salah.
Keteladanan berarti orang tua memiliki arah yang benar dan terus memperbaiki kesalahannya.
Orang Tua Pun Dapat Terlebih Dahulu Berbuat Zalim kepada Anak
Dalam kajian diceritakan sebuah atsar yang dinisbatkan kepada Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu tentang seorang ayah yang mengadukan kedurhakaan anaknya.
Setelah mendengar penjelasan sang anak mengenai hak-haknya yang tidak dipenuhi, sang ayah diingatkan bahwa ia telah berbuat buruk kepada anaknya terlebih dahulu sebelum menuntut kebaikan dari anak tersebut.
Pesan yang ditekankan dalam kajian adalah:
Tidak adil apabila orang tua hanya melihat kesalahan anak tanpa mengevaluasi contoh dan pendidikan yang diberikan di rumah.
Orang tua dapat berkata:
Tetapi orang tua juga perlu bertanya:
Orang tua dapat berkata:
Tetapi perlu bertanya:
Anak memang tetap memiliki tanggung jawab atas perbuatannya, terutama setelah balig.
Namun orang tua tidak boleh menggunakan kesalahan anak sebagai alasan untuk berhenti mengevaluasi dirinya.
Jangan Mengajari Anak Berdusta Melalui Hal yang Dianggap Sepele
Dalam kajian disebutkan hadis tentang orang tua yang memanggil anaknya dan menjanjikan sesuatu.
Apabila anak datang tetapi ternyata orang tua tidak memberikan apa yang dijanjikan, perbuatan tersebut menjadi contoh kedustaan.
Pesannya sangat penting:
Anak belajar kejujuran bukan hanya ketika orang tua berkata, "Jangan bohong."
Anak juga belajar kejujuran dari:
- janji kecil yang ditepati;
- ucapan yang sesuai kenyataan;
- candaan yang tidak menipu;
- dan sikap orang tua ketika melakukan kesalahan.
Hal yang dianggap sepele oleh orang dewasa dapat menjadi pelajaran besar bagi anak.
Karena itu, keteladanan bekerja bahkan ketika orang tua tidak merasa sedang mendidik.
Anak Meniru Ibadah yang Terus Ia Saksikan
Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma pernah bermalam di rumah bibinya, Maimunah radhiyallahu 'anha.
Ia melihat Rasulullah ﷺ bangun di malam hari dan melaksanakan salat.
Pada kesempatan berikutnya, Ibnu Abbas mengikuti apa yang dilihatnya. Ia berwudu dan berdiri salat bersama Nabi ﷺ. Ketika ia berdiri di sebelah kiri, Rasulullah memindahkannya ke sebelah kanan.
Dalam peristiwa tersebut, Nabi ﷺ tidak harus membangunkannya dengan perintah panjang.
Ibnu Abbas melihat, kemudian mengikuti.
Inilah kekuatan qudwah.
Anak yang berkali-kali melihat:
- orang tuanya salat;
- membaca Al-Qur'an;
- berwudu;
- berzikir;
- berdoa;
- dan menjaga adab,
sedang menerima pendidikan bahkan sebelum seluruh penjelasan diberikan kepadanya.
Dalam sesi tanya jawab, ustadz juga menganjurkan agar amalan-amalan sunnah yang memang disyariatkan dilakukan di rumah tidak selalu dipindahkan ke luar rumah.
Rumah perlu hidup dengan ibadah agar anak memiliki sesuatu yang dapat ia lihat dan rekam.
Anak Juga Merekam Ucapan yang Terus Diulang
Dalam kajian disebutkan riwayat dari keluarga Abu Bakrah.
Seorang anak mendengar ayahnya berulang kali membaca doa pada waktu pagi, di antaranya:
"Ya Allah, berilah kesehatan pada badanku. Ya Allah, berilah kesehatan pada pendengaranku. Ya Allah, berilah kesehatan pada penglihatanku. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau."
Ketika anak bertanya mengapa doa itu terus dibaca, ayahnya menjelaskan bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ membacanya dan ingin mengikuti sunnah beliau.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa keteladanan tidak hanya bekerja melalui perbuatan.
Ucapan yang terus terdengar juga membentuk rumah.
Anak mendengar:
- doa yang dibaca orang tuanya;
- cara orang tua menyebut nama Allah;
- ucapan ketika marah;
- cara ayah berbicara kepada ibu;
- cara ibu berbicara kepada ayah;
- kalimat yang digunakan ketika kecewa;
- dan cara keluarga merespons nikmat atau musibah.
Karena itu, menjaga lisan merupakan bagian besar dari pendidikan anak.
Anak Seperti Rekaman yang Menyimpan Baik dan Buruk
Dalam kajian digunakan perumpamaan bahwa anak seperti CCTV.
CCTV tidak hanya merekam hal yang baik. Ia merekam apa pun yang berada di hadapannya.
Begitu pula anak.
Ia dapat melihat detail yang tidak disadari orang tua:
- tangan mana yang digunakan ketika minum;
- bagaimana orang tua menjawab ketika dipanggil;
- cara orang tua memegang telepon;
- cara bereaksi terhadap kesalahan;
- suara yang digunakan ketika marah;
- serta apakah nasihat yang diberikan sesuai dengan perilaku sehari-hari.
Karena itu, tidak cukup berharap anak hanya meniru bagian yang baik.
Semakin sering suatu perilaku hadir di rumah, semakin besar kemungkinan perilaku itu dianggap sebagai sesuatu yang normal.
Lima Ikhtiar agar Keteladanan Tumbuh di Rumah
Memperbanyak Doa
Keteladanan tidak dapat dibangun hanya dengan kekuatan diri.
Orang tua perlu terus memohon pertolongan kepada Allah.
Nabi Ibrahim alaihissalam berdoa:
"Ya Rabbku, jadikanlah aku orang yang tetap melaksanakan salat dan juga sebagian keturunanku. Ya Rabb kami, perkenankanlah doaku."
QS. Ibrahim: 40
Perhatikan urutannya:
Kemudian:
Orang tua meminta kebaikan untuk dirinya terlebih dahulu, lalu meminta kebaikan bagi anak-anaknya.
Allah juga mengajarkan doa:
"Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa."
QS. Al-Furqan: 74
Para nabi adalah manusia pilihan, tetapi mereka tetap berdoa kepada Allah.
Maka orang tua pada zaman yang penuh fitnah lebih membutuhkan kebiasaan berdoa untuk dirinya dan keluarganya.
Melatih Kesabaran
Sabar tidak hanya ditunggu. Sabar perlu dilatih.
Salah satu latihan paling sederhana yang disebutkan dalam kajian adalah:
tidak mengomentari semua hal yang tidak kita sukai.
Ketika anak melakukan sesuatu yang membuat kesal, orang tua tidak harus selalu langsung berbicara.
Terkadang latihan sabar dimulai dari:
- menahan komentar;
- menurunkan suara;
- tidak langsung membentak;
- memberikan jeda;
- dan memilih membicarakannya nanti.
Dalam kajian diberikan contoh tentang anak kecil yang mengotori pakaian.
Pakaian yang terkena kotoran dapat dicuci.
Tetapi kalimat kasar yang masuk ke hati anak dapat jauh lebih sulit dihilangkan.
Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas."
QS. Az-Zumar: 10
Pendidikan anak membutuhkan kesabaran yang terus diperbarui.
Mujahadah dan Bersungguh-sungguh
Membangun keluarga membutuhkan kesungguhan.
Menikah dan memiliki anak berarti menerima tanggung jawab, kelelahan, masalah, perubahan fase, dan kebutuhan untuk terus belajar.
Masalah anak ketika bayi tidak sama dengan masalah ketika berusia tujuh tahun.
Masalah ketika mendekati balig berbeda lagi dengan masalah ketika remaja dan dewasa.
Karena itu, orang tua perlu bermujahadah:
- terus memikirkan apa yang perlu diperbaiki;
- tidak cepat menyerah ketika lelah;
- tetap mencari solusi;
- dan mengerahkan kemampuan yang dimiliki untuk menjalankan amanah.
Kesungguhan tidak berarti orang tua tidak boleh merasa capek.
Yang dijaga adalah agar kelelahan tidak menjadi alasan untuk meninggalkan tanggung jawab atau melampiaskan emosi kepada keluarga.
Memilih Lingkungan yang Baik dan Menjaga dari Lingkungan yang Buruk
Orang tua tidak cukup berkata:
Memilih dan mengawasi lingkungan juga merupakan bagian dari amanah orang tua.
Anak dapat membawa pulang dari luar rumah:
- lagu;
- perkataan;
- kebiasaan;
- candaan;
- cara bergaul;
- nilai;
- dan perilaku yang sebelumnya tidak dikenal di rumah.
Tugas orang tua bukan membuat anak hidup tanpa berinteraksi dengan dunia.
Tugasnya adalah:
- 1memilih lingkungan yang sebaik mungkin;
- 2mengetahui pengaruh yang masuk;
- 3segera menjelaskan ketika ada sesuatu yang keliru;
- 4memberikan batasan yang sesuai;
- 5dan menjauhkan anak dari lingkungan yang jelas merusak apabila diperlukan.
Hal yang sama berlaku pada lingkungan digital.
Tontonan dan media sosial juga merupakan bagian dari lingkungan anak.
Orang tua perlu mengetahui apa yang dilihat anak, memberikan batasan, mendampingi, dan mengajarkan apa yang perlu dilewati atau ditinggalkan.
Mengingat bahwa Mendidik adalah Ibadah
Salah satu cara agar orang tua tetap semangat adalah mengingat kembali:
Mengasuh, mendidik, menahan amarah, memilih lingkungan, mengulang nasihat, dan memperbaiki diri bukan pekerjaan yang sia-sia.
Semua itu dijalani dalam rangka menunaikan amanah dari Allah.
Kesadaran ini mengubah cara memandang kelelahan.
Orang tua tetap merasa capek, tetapi ia mengetahui mengapa ia bersabar.
Ia tetap menghadapi kesulitan, tetapi memiliki harapan pahala.
Ia tetap harus mengulang pendidikan, tetapi mengetahui bahwa anak yang saleh dapat menjadi amal jariah setelah dirinya meninggal dunia.
Sekolah adalah Mitra, Bukan Pengganti Orang Tua
Ketika anak sudah bersekolah, orang tua perlu membangun komunikasi dengan guru.
Dalam kajian dijelaskan bahwa pengaruh dominan anak dapat berubah seiring fase kehidupannya.
Secara sederhana, ustadz menggambarkan:
- pada usia dini, anak sangat banyak melihat orang tua;
- ketika mulai sekolah, guru memiliki pengaruh yang besar;
- ketika memasuki masa remaja, teman sebaya semakin kuat pengaruhnya.
Karena itu, orang tua perlu mengetahui siapa saja yang sedang menjadi rujukan anak.
Jika keluarga memiliki aturan tertentu, komunikasi dengan sekolah dapat membantu agar pesan yang diterima anak tidak saling bertentangan.
Contohnya:
- pembatasan waktu layar;
- kebiasaan ibadah;
- disiplin harian;
- dan adab tertentu.
Sekolah dapat membantu, tetapi pendidikan anak tetap tidak boleh sepenuhnya diserahkan kepada sekolah.
Pondasi 2 dari 8: Memahami Waktu yang Tepat dalam Mendidik
Kebenaran Juga Membutuhkan Waktu yang Tepat
Islam sangat memperhatikan waktu.
Salat memiliki waktu.
Puasa memiliki waktu.
Haji dan wukuf memiliki waktu.
Banyak ibadah tidak dapat dilakukan semaunya tanpa memperhatikan ketetapan waktunya.
Dalam pendidikan pun orang tua perlu belajar memilih waktu.
Tidak semua kesalahan harus langsung dibahas saat itu juga.
Tidak semua nasihat harus segera dikeluarkan hanya karena orang tua baru mengingatnya.
Terkadang masalahnya bukan pada isi nasihat.
Masalahnya adalah orang tua tidak sabar menunggu keadaan yang lebih tepat.
Apabila perlu, catat hal yang ingin dibicarakan dan sampaikan ketika suasana lebih baik.
Ini terutama penting ketika:
- anak sedang marah;
- orang tua sedang marah;
- anak sedang malu di hadapan orang lain;
- situasi terlalu ramai;
- atau perhatian anak sedang tertutup oleh keadaan lain.
Dekati Anak Sebelum Memberikan Nasihat
Salah satu pola yang berulang dalam contoh-contoh Nabi ﷺ adalah adanya panggilan yang lembut sebelum pesan disampaikan.
Nabi ﷺ menggunakan panggilan seperti:
atau:
Panggilan tersebut mempersiapkan perhatian anak.
Dalam kajian disampaikan beberapa adab praktis ketika hendak menyampaikan sesuatu yang penting:
- dekati anak;
- panggil namanya atau panggilan yang baik;
- bangun perhatian terlebih dahulu;
- apabila sesuai, berikan sentuhan yang menenangkan;
- berbicaralah dari dekat;
- dan jangan menasihati atau mempermalukannya di depan orang lain.
Nasihat bukan pengumuman.
Semakin pribadi masalahnya, semakin penting menjaga kehormatan anak.
Bahkan ketika pesannya benar, menyampaikannya di hadapan saudara, pasangan, teman, atau orang banyak dapat membuat anak lebih sibuk mempertahankan dirinya daripada mendengar isi nasihat.
Tiga Waktu yang Dicontohkan untuk Menasihati Anak
Ketika Bersantai atau Bepergian
Salah satu waktu yang baik adalah ketika anak sedang santai, berjalan-jalan, atau berada dalam perjalanan bersama orang tua.
Keadaan tersebut membuka ruang percakapan yang lebih tenang.
Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma menceritakan bahwa ia pernah berada di belakang Nabi ﷺ dalam perjalanan.
Rasulullah ﷺ berkata:
"Wahai anak, sungguh aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu."
HR. at-Tirmidzi
Nasihat yang sangat besar tentang tauhid, penjagaan Allah, dan tawakal disampaikan dalam sebuah perjalanan ketika Nabi ﷺ sedang bersama seorang anak.
Pelajarannya bukan berarti nasihat hanya boleh diberikan ketika bepergian.
Namun orang tua perlu memanfaatkan momen-momen ketika hubungan terasa dekat dan hati anak lebih terbuka.
Misalnya:
- ketika berkendara berdua;
- berjalan kaki;
- rekreasi;
- setelah melakukan aktivitas yang menyenangkan;
- atau ketika memiliki waktu pribadi bersama anak.
Momen santai dapat menjadi ruang untuk membicarakan hal yang sulit tanpa suasana seperti sedang menginterogasi.
Ketika Makan
Waktu makan juga menjadi kesempatan untuk mendidik.
Umar bin Abi Salamah radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa ketika masih kecil, tangannya bergerak ke berbagai sisi hidangan.
Rasulullah ﷺ tidak langsung membentaknya.
Beliau berkata:
"Wahai anak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang dekat denganmu."
HR. al-Bukhari dan Muslim
Perhatikan cara Nabi ﷺ mendidik:
- 1anak dipanggil dengan baik;
- 2diberikan arahan yang jelas;
- 3dimulai dengan menyebut nama Allah;
- 4diajarkan menggunakan tangan kanan;
- 5kemudian diarahkan untuk mengambil makanan yang dekat.
Pesannya singkat, spesifik, dan diberikan tepat pada saat perbuatan sedang berlangsung.
Orang tua dapat menggunakan waktu makan untuk membangun adab dengan cara yang ringan dan alami.
Namun meja makan jangan berubah menjadi tempat ceramah panjang setiap hari.
Yang dicontohkan adalah nasihat yang sesuai keadaan, lembut, dan mudah dipraktikkan.
Ketika Anak Sedang Sakit
Ketika sakit, seorang anak sangat membutuhkan perlindungan dan kehadiran orang yang ia percaya.
Dalam keadaan seperti itu, kedekatan emosional dapat menjadi sangat kuat.
Dalam hadis sahih disebutkan seorang anak Yahudi yang pernah membantu Nabi ﷺ.
Ketika anak tersebut sakit, Rasulullah ﷺ datang menjenguknya.
Beliau kemudian mengajaknya masuk Islam.
Anak itu melihat kepada ayahnya. Ayahnya berkata agar ia menaati Abul Qasim, yaitu Rasulullah ﷺ. Anak tersebut kemudian masuk Islam.
HR. al-Bukhari
Dalam kajian ditekankan bahwa anak tersebut telah mengenal Nabi ﷺ sebelumnya.
Namun Rasulullah ﷺ tidak terus-menerus mendesaknya.
Beliau memilih suatu keadaan ketika perhatian, kedekatan, dan kebutuhan anak sedang sangat kuat.
Pelajarannya bagi orang tua:
tidak semua pesan harus disampaikan hari ini.
Ada nasihat yang lebih baik diberikan:
- besok;
- beberapa hari lagi;
- ketika anak lebih tenang;
- ketika hubungan sedang dekat;
- atau ketika sebuah keadaan membuat hatinya lebih siap mendengar.
Sabar memilih waktu merupakan bagian dari pendidikan.
Kasus dan Pertanyaan
Apakah Salat Sunnah di Rumah Dapat Menjadi Bentuk Keteladanan?
Ya.
Dalam sesi tanya jawab dijelaskan bahwa memperbanyak amalan yang memang disyariatkan dilakukan di rumah dapat membantu menghadirkan keteladanan bagi anak.
Bukan hanya salat sunnah.
Anak juga dapat melihat:
- zikir;
- membaca Al-Qur'an;
- doa;
- wudu;
- dan kebiasaan ibadah lainnya.
Ustadz menggambarkan fase awal kehidupan anak sebagai masa ketika ia sangat banyak melihat dan merekam.
Dalam penjelasan kajian:
- usia sekitar 0–7 tahun banyak diisi dengan melihat dan merekam kebiasaan;
- usia sekitar 7–10 tahun mulai lebih banyak diberikan arahan, persiapan, dan latihan.
Contohnya adalah salat.
Anak diperintahkan mulai dilatih salat sejak usia tujuh tahun agar ia tidak pertama kali berkenalan dengan kewajiban salat setelah balig.
Prinsipnya adalah:
jangan menunggu sebuah kewajiban datang baru mulai memperkenalkannya.
Pendidikan membutuhkan persiapan jauh sebelumnya.
Bagaimana Menasihati Anak SMP yang Pendiam?
Anak yang telah mendekati atau memasuki masa balig perlu mendapatkan penjelasan yang lebih jelas mengenai:
- perkara wajib;
- perkara haram;
- tanggung jawab setelah balig;
- aurat;
- salat;
- dan hukum-hukum yang berkaitan dengan kehidupannya.
Persiapan idealnya dilakukan sebelum balig.
Anak perempuan, misalnya, perlu mengetahui tentang haid dan konsekuensi hukum setelah balig sebelum haid pertama datang.
Untuk cara berkomunikasi, anak yang pendiam tetap mendengar.
Yang penting adalah metode penyampaiannya.
Beberapa prinsip dari kajian:
- 1jangan langsung melontarkan nasihat tanpa pembuka;
- 2panggil anak terlebih dahulu;
- 3pastikan perhatiannya sudah hadir;
- 4pilih waktu yang tenang;
- 5lebih baik berbicara berdua;
- 6manfaatkan perjalanan, waktu makan, atau keadaan ketika hubungan sedang dekat;
- 7jangan mengukur keberhasilan hanya dari banyaknya jawaban anak saat itu juga.
Anak dapat terlihat diam tetapi tetap menyimpan pesan yang diberikan kepadanya.
Bagaimana Menghadapi Anak Dewasa yang Sudah Bekerja dan Tidak Dapat Dipantau Sepanjang Hari?
Anak yang sudah dewasa perlu diajak berbicara sebagai orang dewasa.
Orang tua tidak mungkin mengawasi anak selama 24 jam.
Karena itu, fokus pendidikan perlu berpindah dari pengawasan terus-menerus kepada prinsip yang telah ditanamkan dan komunikasi yang tetap terbuka.
Dalam kajian disarankan agar orang tua memastikan perkara-perkara pokok telah dipahami, seperti:
- salat;
- kewajiban agama;
- halal dan haram;
- batas pergaulan;
- dan prinsip-prinsip utama yang dijaga di dalam keluarga.
Apabila ada masalah, bicarakan secara pribadi.
Dekati anak, jelaskan alasan nasihat, dan jangan menyampaikannya di depan orang lain.
Selain itu, bantu anak menemukan lingkungan yang baik.
Orang tua dapat mengenalkan komunitas, teman, atau kegiatan yang mendukung kebaikan tanpa harus menjadikan anak merasa terus-menerus diawasi.
Refleksi
Bagian ini dapat direnungkan sendiri atau dibicarakan bersama pasangan.
Tentang Ilmu Orang Tua
- Apa yang ingin kami ajarkan kepada anak tetapi belum kami pelajari dengan baik?
- Apakah kami terus belajar agama yang dibutuhkan untuk kehidupan keluarga?
- Ketika tidak mengetahui jawaban, apakah kami mau belajar atau hanya tetap menuntut anak?
- Apakah anak melihat kami sebagai orang yang juga masih belajar?
Tentang Keteladanan
- Kebiasaan apa yang paling sering anak lihat dari kami setiap hari?
- Apakah perilaku kami sesuai dengan nasihat yang kami berikan?
- Apa yang anak pelajari dari cara kami marah?
- Apa yang anak pelajari dari cara kami memperlakukan pasangan?
- Apakah rumah kami cukup dipenuhi ibadah yang dapat dilihat anak?
- Apakah kami menepati janji kecil kepada anak?
Tentang Kesabaran
- Apakah semua kesalahan anak selalu harus kami komentari?
- Bisakah kami diam ketika sedang marah?
- Apakah kami memberi jeda sebelum menasihati?
- Apakah kelelahan sering berubah menjadi bentakan?
- Bagian apa dari pengasuhan yang paling membutuhkan latihan sabar dari kami?
Tentang Lingkungan
- Siapa yang paling banyak memengaruhi anak saat ini: orang tua, guru, teman, atau layar?
- Apakah kami mengetahui lingkungan pergaulannya?
- Apakah tontonan dan media sosial anak ikut kami perhatikan?
- Ketika pengaruh buruk masuk, apakah kami segera menjelaskan atau hanya memarahi?
Tentang Waktu Memberikan Nasihat
- Apakah kami terbiasa menasihati anak di depan orang lain?
- Apakah kami mendekati anak sebelum berbicara?
- Apakah kami memilih keadaan ketika anak siap mendengar?
- Momen santai apa yang bisa kami manfaatkan untuk percakapan yang lebih dalam?
- Adakah nasihat yang sebenarnya lebih baik disampaikan nanti, bukan sekarang?
Tantangan Zaman Hari Ini
Orang Tua Banyak Menuntut, Sedikit Memperlihatkan
Anak dapat memiliki akses kepada begitu banyak nasihat, kelas, sekolah, dan konten agama.
Namun semua itu dapat kehilangan pengaruh ketika kehidupan rumah memberikan contoh yang berlawanan.
Meminta anak menjaga salat akan lebih berat apabila ia melihat orang tua meremehkannya.
Meminta anak membatasi layar akan lebih berat apabila hampir seluruh waktu luang orang tua juga dihabiskan di depan layar.
Keteladanan tetap menjadi bahasa pendidikan yang sangat kuat.
Layar Menjadi Lingkungan Kedua Anak
Lingkungan anak hari ini tidak hanya teman sekolah dan tetangga.
Algoritma, video pendek, gim, grup percakapan, dan media sosial dapat menghadirkan pengaruh dari luar rumah setiap saat.
Karena itu, memilih lingkungan yang baik juga berarti memahami lingkungan digital.
Pengawasan saja tidak cukup. Anak perlu diberi alasan, batasan, dan kemampuan untuk mengenali sendiri mana yang baik dan mana yang harus ditinggalkan.
Semua Masalah Ingin Diselesaikan Seketika
Kecepatan komunikasi modern dapat membuat orang tua terbiasa merespons semua masalah saat itu juga.
Anak melakukan kesalahan, langsung ditegur.
Orang tua merasa tidak suka, langsung berkomentar.
Padahal tidak semua perkara harus diselesaikan pada detik yang sama.
Kemampuan menunda pembicaraan sampai waktu yang lebih tepat merupakan bagian dari hikmah.
Pendidikan Terlalu Mudah Dialihkan kepada Sekolah
Sekolah, guru, ustadz, komunitas, dan program pendidikan dapat membantu.
Namun semuanya tetap merupakan mitra.
Anak tetap membawa pulang apa yang ia lihat di rumah.
Semakin banyak pendidikan diserahkan kepada pihak luar, semakin penting orang tua memastikan bahwa kehidupan rumah tidak membatalkan pesan yang sedang diajarkan.
Nasihat Berubah Menjadi Koreksi di Depan Publik
Sebagian orang tua terbiasa mengoreksi anak di depan saudara, pasangan, teman, atau orang banyak.
Tujuannya mungkin baik, tetapi rasa malu dapat menutup telinga anak dari isi nasihat.
Mendekat, berbicara berdua, dan menjaga kehormatan anak bukan berarti memanjakannya.
Itu merupakan bagian dari adab dalam mendidik.
Pengamalan
- Membaca dan merenungkan QS. At-Tahrim: 6 serta QS. Ar-Rum: 30.
- Menentukan satu ilmu agama yang paling dibutuhkan keluarga untuk dipelajari lebih serius.
- Memperbaiki satu kebiasaan yang paling sering dilihat anak.
- Membiasakan diam ketika marah sebelum mengeluarkan komentar.
- Membaca dan menghafal satu doa Al-Qur'an untuk kebaikan keluarga.
- Membiasakan sebagian amalan sunnah di rumah agar anak dapat melihatnya.
- Menepati janji kecil kepada anak dan menghindari candaan yang mengandung kebohongan.
- Menentukan satu kebiasaan keluarga yang membantu membangun kesabaran.
- Mengenali lingkungan yang paling besar memengaruhi anak saat ini.
- Mengevaluasi tontonan dan lingkungan digital anak dengan lebih terarah.
- Berkomunikasi dengan guru atau pendidik apabila anak sudah bersekolah.
- Menentukan satu waktu santai setiap pekan untuk berbicara dengan anak tanpa distraksi.
- Membiasakan mendekati dan memanggil anak dengan baik sebelum memberikan nasihat penting.
- Tidak menasihati atau mempermalukan anak di depan orang lain.
- Menyiapkan anak terhadap kewajiban sebelum ia memasuki masa balig.
- Mengajak anak yang sudah dewasa berdiskusi tentang prinsip agama sebagai sesama orang dewasa.
- Mengingat kembali setiap hari bahwa mendidik keluarga adalah bagian dari ibadah dan amanah.
Jangan berhenti di catatan ini
Simak kajian lengkap
Catatan ini pendamping untuk mengingat. Simak rekaman utuh agar konteks dan contoh dari ustadz dapat dipahami sepenuhnya.
Tonton Rekaman KajianFollow Channel WhatsApp Deen Area
Follow Channel WhatsApp Deen Area untuk informasi kajian selanjutnya.
Follow Channel WhatsAppDukung seikhlasnya
Ikut menjaga keberlanjutan kajian, konten, web book, dan web app gratis.
Dukung Program Deen Area