Kembali ke pustaka

Serial Mendidik Anak dengan Cara Nabi ﷺ — Pertemuan 4

Berilmu Sebelum Mendidik — Part 2

Ustadz Hervi Firdaus, Lc.

12 September 2026 • ±24 menit

Manhaj at-Tarbiyah an-Nabawiyyah lil-Thifl — karya Syaikh Muhammad Nur bin Abdul Hafizh Suwaid rahimahullah

Catatan ini disusun berdasarkan rekaman dan transkrip kajian, kemudian dirapikan oleh tim Deen Area untuk membantu jamaah mengingat, memahami, dan mengamalkan materi. Catatan ini merupakan pendamping, bukan pengganti kajian secara utuh.

Rangkuman Singkat

Orang tua yang baik tidak hanya hadir ketika anak bermasalah. Ia hadir sebelum masalah muncul: membangun hubungan, memberikan perhatian, mengawasi perkembangan, mengembangkan potensi, meluruskan kekeliruan, dan menjadi contoh yang baik. Inilah orang tua yang proaktif dalam mendidik, bukan sekadar reaktif ketika nilai anak turun, anak bertengkar, atau perilakunya mulai sulit dikendalikan.

Kajian ini juga membedakan tarbiyah dan ri‘ayah. Menyediakan makanan, pakaian, biaya sekolah, dan kebutuhan sehari-hari merupakan bagian penting dari ri‘ayah atau perawatan. Namun mendidik tidak berhenti di sana. Tarbiyah menuntut perhatian, pengawasan, pengarahan, pengembangan, pelurusan, dan keteladanan.

Prinsip penting dalam tarbiyah adalah al-‘alaqah, yaitu hubungan yang baik antara orang tua dan anak. Tanpa hubungan yang baik, nasihat mudah terasa seperti serangan; pengawasan dianggap sebagai kecurigaan; dan arahan sulit diterima. Karena itu, sebelum meminta anak mendengar, orang tua perlu lebih dahulu belajar menjadi pendengar yang baik.

Dalam kajian dijelaskan tiga tingkatan mendengar: as-sama‘, sekadar suara terdengar; al-istima‘, mendengar dengan perhatian; dan al-inshat, diam serta sungguh-sungguh berusaha memahami. Orang tua tidak cukup hanya menangkap suara anak sambil terus melihat layar atau menyiapkan bantahan. Anak perlu merasa bahwa cerita, pertanyaan, dan kebutuhannya benar-benar diterima.

Setelah mengulang dua pondasi dari pertemuan sebelumnya—keteladanan yang baik dan memilih waktu yang tepat—kajian melanjutkan beberapa pondasi berikutnya: bersikap adil kepada anak-anak, responsif terhadap hak mereka, serta membiasakan mendoakan kebaikan bagi mereka.

Adil bukan berarti semua anak selalu menerima jumlah dan bentuk perlakuan yang sama. Kebutuhan anak dapat berbeda menurut usia dan keadaannya. Namun rasa cinta, kedekatan, kehormatan, dan kesempatan untuk didengar tidak boleh sengaja dibeda-bedakan hingga seorang anak merasa kurang dicintai.

Menjadi orang tua yang baik merupakan proses panjang. Ada masa ketika pendidikan berjalan lancar, ada kesulitan yang membutuhkan kesabaran, dan ada kesalahan yang harus segera diperbaiki. Orang tua tidak menunggu sempurna untuk mendidik. Ia belajar sambil menjalankan amanah, berlatih secara bertahap, memperbaiki kekeliruan, dan terus memohon pertolongan Allah.


Catatan Kajian

Dalam kerangka delapan pondasi pendidikan, pertemuan ini menguatkan kembali Pondasi 1 dan 2, kemudian membahas Pondasi 3, 4, dan 5. Bagian tentang sikap proaktif, tarbiyah–ri‘ayah, hubungan, dan kemampuan mendengar ditempatkan sebagai bekal tambahan agar tidak tercampur dengan pondasi bernomor.

Bekal Tambahan: Menjadi Orang Tua yang Proaktif

Orang Tua yang Proaktif Tidak Menunggu Masalah Datang

Dalam kajian dijelaskan dua gambaran pendidik.

Pertama, al-murabbi al-ijabi, yaitu pendidik yang positif dan proaktif. Ia menjalankan perannya secara sadar dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya ketika muncul masalah.

Kedua, orang tua yang reaktif. Ia baru hadir ketika:

  • anak bertengkar di sekolah;
  • nilai anak menurun;
  • sesuatu pecah di rumah;
  • perilaku anak mulai sulit dikendalikan;
  • atau masalah sudah terlanjur besar.

Orang tua seperti ini diumpamakan seperti petugas pemadam kebakaran yang baru datang ketika api sudah menyala.

Pola tersebut mungkin berguna dalam pekerjaan tertentu, tetapi tidak cukup untuk mendidik keluarga. Rumah dan anak perlu dijaga sebelum mengalami kerusakan.

Orang tua yang proaktif berusaha mengetahui:

  • apa yang sedang dipelajari anak;
  • hal apa yang membuatnya senang atau gelisah;
  • kesulitan apa yang ia hadapi;
  • siapa yang sedang memengaruhinya;
  • perubahan apa yang mulai terlihat;
  • dan bantuan apa yang dibutuhkannya.
Kehadiran orang tua tidak seharusnya identik dengan datangnya teguran. Anak perlu mengenal kehadiran ayah dan ibu sebagai sumber perhatian, perlindungan, arahan, dan kedekatan.

Tarbiyah Berbeda dengan Ri‘ayah

Kajian membedakan dua tanggung jawab yang sering dianggap sama:

  1. 1Ri‘ayah: menjaga dan merawat.
  2. 2Tarbiyah: mendidik dan menumbuhkan.

Menyediakan makanan, pakaian, biaya sekolah, uang saku, tempat tinggal, dan kebutuhan fisik merupakan bagian penting dari ri‘ayah. Anak memang memiliki hak untuk dirawat dengan baik.

Namun semua itu belum mewakili seluruh tugas pendidikan.

Tarbiyah mencakup:

  • memberikan perhatian;
  • mengawasi perkembangan;
  • mengembangkan potensi;
  • mengarahkan kepada kebaikan;
  • meluruskan sesuatu yang keliru;
  • membangun komunikasi;
  • dan memberikan contoh yang baik.

Babysitter dapat membantu merawat anak. Sekolah dapat membantu mengajarkan ilmu. Namun peran orang tua sebagai murabbi tidak dapat seluruhnya dipindahkan kepada orang lain.

Pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya:

“Apakah kebutuhan anak sudah dibayar?”

tetapi juga:

“Apakah ia diperhatikan, didengar, diarahkan, dan ditumbuhkan?”

Al-‘Alaqah: Hubungan adalah Pintu Pendidikan

Prinsip penting dalam hubungan pendidikan adalah al-‘alaqah, yaitu terjalinnya hubungan yang baik dengan anak.

Hubungan yang baik tidak berarti orang tua selalu menuruti keinginan anak atau tidak pernah memberikan batasan.

Hubungan yang baik berarti anak mengenal orang tuanya sebagai seseorang yang:

  • hadir dalam kehidupannya;
  • bersedia mendengar;
  • memperhatikannya;
  • dapat dipercaya;
  • menjaga kehormatannya;
  • dan menginginkan kebaikan baginya.

Tanpa hubungan yang baik, perhatian dapat terasa sebagai campur tangan, pengawasan terasa sebagai kecurigaan, dan koreksi terasa sebagai serangan.

Karena itu, orang tua perlu memeriksa bukan hanya seberapa sering ia berbicara kepada anak, tetapi juga kualitas hubungan yang menjadi tempat nasihat itu disampaikan.


Penguatan Pondasi 1 dari 8: Al-Qudwah Al-Hasanah

Keteladanan Juga Dapat Diberikan Melalui Kisah

Pertemuan sebelumnya membahas al-qudwah al-hasanah, yaitu keteladanan yang baik.

Keteladanan pertama berasal dari kehidupan orang tua sendiri. Anak melihat cara ayah dan ibunya beribadah, berbicara, marah, memperlakukan pasangan, menepati janji, dan menghadapi kesulitan.

Namun contoh yang baik tidak hanya berasal dari diri orang tua.

Orang tua dapat mengenalkan teladan melalui:

  • kisah para nabi;
  • kisah para sahabat;
  • kisah orang-orang saleh;
  • serta peristiwa yang mengandung pelajaran.

Al-Qur'an menghadirkan kisah bukan sekadar sebagai hiburan atau susunan sejarah yang lengkap. Kisah diberikan agar manusia mengambil pelajaran sesuai kebutuhannya.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ ۚ وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا

“Dan ada beberapa rasul yang telah Kami kisahkan mereka kepadamu sebelumnya dan ada beberapa rasul yang tidak Kami kisahkan mereka kepadamu.” Dan kepada Musa, Allah berfirman langsung.

QS. An-Nisa: 164

Ketika anak perlu belajar tentang ketaatan, orang tua dapat menceritakan Nabi Ismail alaihissalam. Ketika perlu belajar tentang kesabaran, ia dapat mengenal kisah Nabi Ya‘qub alaihissalam. Ketika perlu belajar tentang keberanian dan tauhid, ia dapat mengenal Nabi Ibrahim alaihissalam.

Tujuannya bukan hanya agar anak mengetahui nama dan alur cerita, tetapi agar sebuah nilai tumbuh dan melekat dalam dirinya.


Membangun Pondasi Berbeda dengan Sekadar Memberi Tahu

Memberi tahu anak dan membangun pondasi pada dirinya merupakan dua hal yang berbeda.

Perintah dapat membuat anak melakukan sesuatu pada saat itu. Pondasi membantu anak memahami mengapa sesuatu perlu dilakukan, lalu menjaganya bahkan ketika tidak sedang diawasi.

Dalam kajian dicontohkan tentang thaharah.

Anak tidak hanya diberi perintah:

“Mandi.”
“Berwudu.”
“Bersihkan diri.”

Ia juga perlu dibantu memahami bahwa Islam mengajarkan kebersihan dan kesucian, serta bahwa thaharah memiliki kedudukan penting dalam agama.

Begitu pula dengan kebiasaan lain. Jika disiplin hanya dibangun melalui paksaan dan hukuman, anak mungkin terlihat tertib ketika pengawas hadir, tetapi meninggalkannya saat pengawas tidak ada.

Pondasi yang kuat membutuhkan:

  • penjelasan yang sesuai usia;
  • contoh yang berulang;
  • latihan;
  • alasan yang dapat dipahami;
  • dan hubungan yang membuat anak bersedia menerima arahan.

Bekal Tambahan: Menjadi Pendengar yang Baik

Sebelum Meminta Anak Mendengar, Dengarkanlah Anak

Orang tua sering mengeluh:

“Anak sudah berkali-kali diberi tahu, tetapi tidak mau mendengar.”

Namun anak pun mungkin merasakan:

“Ketika aku berbicara, ayah dan ibu juga tidak mendengarkan.”

Dalam kajian dijelaskan bahwa salah satu dasar terpenting dalam komunikasi adalah kemampuan mendengar.

Orang tua tidak akan mudah memberikan nasihat yang tepat apabila ia belum mengetahui apa yang sebenarnya dipikirkan, dirasakan, dan dibutuhkan anak.

Menjadi pendengar yang baik berarti:

  • tidak segera memotong pembicaraan;
  • tidak menyiapkan bantahan sebelum anak selesai;
  • tidak hanya menjawab “iya” sambil tetap sibuk dengan layar;
  • memberikan perhatian;
  • menahan diri untuk langsung menghakimi;
  • dan berusaha memahami maksud di balik kata-katanya.

Dalam kajian dikisahkan keteladanan Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ketika menghadapi seseorang yang memasuki rumahnya untuk mencuri. Beliau tidak langsung menghukum atau memarahinya. Orang itu diberi makan terlebih dahulu, lalu didengarkan alasannya. Sikap mendengar tersebut menjadi jalan hadirnya pertolongan dan perubahan besar dalam hidup orang itu.

Pelajarannya adalah bahwa tindakan yang tepat sering kali baru terlihat setelah seseorang bersedia mendengar.


Tiga Tingkatan Mendengar

Kajian menjelaskan tiga istilah dalam bahasa Arab yang menggambarkan tingkatan mendengar.

As-sama‘

Suara terdengar oleh telinga, tetapi belum tentu diperhatikan.

Seseorang dapat mendengar azan tetapi tidak meresponsnya. Ia dapat berada dalam kajian tetapi pikirannya berada di tempat lain. Di rumah, orang tua dapat mendengar suara anak sambil terus bekerja atau melihat telepon, tanpa benar-benar menangkap pesannya.

Al-istima‘

Mendengar dengan perhatian.

Seseorang tidak hanya menerima suara, tetapi mengikuti pembicaraan dan memahami pokok yang disampaikan.

Al-inshat

Diam dan bersungguh-sungguh menyimak agar dapat memahami.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Apabila dibacakan Al-Qur'an, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.”

QS. Al-A‘raf: 204

Ayat tersebut dibahas dalam kajian untuk memperlihatkan perbedaan antara sekadar mendengar dan menyimak dengan perhatian serta diam.

Untuk membangun hubungan dengan anak, orang tua perlu berusaha naik dari sekadar sami‘—orang yang mendengar suara—menjadi mustami‘, orang yang benar-benar memberikan perhatian.

Jika anak berulang kali menerima sikap “sekadar didengar”, jangan heran apabila ia memberikan respons yang sama ketika orang tua berbicara.

Lebih Banyak Mendengar, Lebih Berhati-hati Berbicara

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”

HR. al-Bukhari dan Muslim

Kemampuan diam bukan tanda kehilangan otoritas.

Dalam pendidikan, diam dapat memberikan kesempatan kepada orang tua untuk:

  • memahami cerita secara utuh;
  • membedakan fakta dan dugaan;
  • mengenali kebutuhan anak;
  • menenangkan emosi;
  • dan memilih respons yang lebih tepat.

Sebaliknya, orang tua yang cepat memotong pembicaraan mungkin hanya menjawab sesuatu yang ia sangka dikatakan anak, bukan sesuatu yang benar-benar dimaksudkan anak.


Penguatan Pondasi 2 dari 8: Memilih Waktu yang Tepat

Komunikasi pada Usia 0–2 Tahun Dibangun Melalui Rasa Aman

Pada pertemuan sebelumnya dibahas waktu dan cara menyampaikan nasihat kepada anak yang sudah dapat memahami pembicaraan.

Lalu bagaimana dengan bayi dan anak yang belum mampu berkomunikasi seperti orang dewasa?

Dalam kajian dijelaskan bahwa pada usia 0–2 tahun, salah satu dasar hubungan adalah memberikan rasa aman.

Rasa aman dibangun melalui kehadiran orang tua, antara lain dengan:

  • suara yang dikenal anak;
  • sentuhan dan gendongan;
  • perawatan yang lembut;
  • pemberian ASI oleh ibu apabila memungkinkan;
  • serta keterlibatan ayah dalam merawat, memandikan, menenangkan, dan membersamai anak.

Pada fase ini, komunikasi tidak hanya berlangsung melalui kata-kata. Kehadiran, sentuhan, suara, dan perawatan juga menyampaikan pesan:

“Kamu aman bersama kami.”

Jangan Menasihati atau Mempermalukan Anak di Depan Orang Lain

Nasihat sebaiknya disampaikan secara pribadi, terutama apabila berkaitan dengan kesalahan anak.

Dalam kajian diberikan contoh kebiasaan melaporkan kesalahan anak kepada pasangan di hadapan anak itu sendiri:

“Lihat, anak kita dari tadi belum mandi.”

Kalimat seperti itu membuat anak seolah-olah sedang disidang oleh dua orang sekaligus.

Membicarakan kesalahan di hadapan saudara, keluarga besar, teman, atau orang lain juga dapat membuat rasa malu menutup perhatian anak dari isi nasihat.

Orang tua tetap boleh berdiskusi dengan pasangan untuk menyelaraskan pendidikan. Namun pilih waktu ketika anak tidak sedang dijadikan objek laporan di hadapannya.

Nasihat bertujuan meluruskan, bukan mempermalukan.


Panggil Anak dengan Baik Sebelum Berbicara

Sebelum menyampaikan perintah atau larangan, persiapkan perhatian anak.

Dalam Al-Qur'an, banyak perintah dan larangan didahului dengan panggilan:

“Wahai orang-orang yang beriman.”

Rasulullah ﷺ pun menggunakan panggilan yang baik kepada anak, seperti:

Ya ghulam — wahai anak.
Ya bunayya — wahai anakku.

Orang tua dapat menggunakan nama atau panggilan yang disukai anak:

  • “Nak…”
  • “Kak…”
  • “Adik…”
  • atau panggilan kasih sayang yang biasa digunakan di rumah.

Panggilan tersebut membantu anak memindahkan perhatian dan bersiap mendengar. Berbeda dengan teguran yang tiba-tiba dilemparkan dari kejauhan, pendekatan seperti ini memberi pembuka yang lembut sebelum pesan utama disampaikan.


Berikan Pengantar Sebelum Mengoreksi

Ketika Umar bin Abi Salamah radhiyallahu ‘anhu masih kecil, tangannya bergerak ke berbagai sisi hidangan. Rasulullah ﷺ bersabda:

يَا غُلَامُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

“Wahai anak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang dekat denganmu.”

HR. al-Bukhari dan Muslim

Bagian yang hendak diluruskan adalah tangannya yang bergerak ke berbagai sisi hidangan. Namun Nabi ﷺ tidak langsung membentak atau hanya menyebut kesalahannya.

Urutannya adalah:

  1. 1memanggil anak dengan baik;
  2. 2mengajarkan membaca basmalah;
  3. 3mengajarkan makan dengan tangan kanan;
  4. 4lalu mengarahkan agar mengambil makanan yang dekat.

Al-Qur'an juga memberikan contoh kelembutan ketika menyampaikan koreksi kepada Rasulullah ﷺ:

عَفَا اللَّهُ عَنْكَ لِمَ أَذِنْتَ لَهُمْ ...

“Allah memaafkanmu. Mengapa engkau memberi izin kepada mereka? ...”

QS. At-Taubah: 43

Kalimat pemaafan disebutkan sebelum pertanyaan yang berisi teguran.

Pelajarannya bukan bahwa semua nasihat harus menjadi panjang. Namun orang tua perlu memikirkan pembuka yang membuat hati anak lebih siap menerima koreksi.


Pondasi 3 dari 8: Bersikap Adil

Adil adalah Menempatkan Sesuatu pada Tempatnya

Pondasi berikutnya adalah bersikap adil kepada anak-anak.

Adil bukan selalu berarti sama rata dalam segala hal.

Adil berarti:

  • menempatkan sesuatu sesuai tempatnya;
  • memberikan hak kepada pemiliknya;
  • dan memberi sesuai porsi serta kebutuhan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Anak SD dan anak SMP mungkin membutuhkan jumlah bekal yang berbeda. Bayi mungkin perlu lebih sering digendong dan disuapi daripada kakaknya. Anak yang sakit mungkin membutuhkan perawatan lebih banyak.

Perbedaan tersebut tidak otomatis berarti tidak adil.

Namun orang tua harus berhati-hati agar perbedaan kebutuhan tidak berubah menjadi perbedaan kasih sayang, kedekatan, penghargaan, atau kesempatan untuk didengar.

Anak tidak boleh sengaja dibuat merasa bahwa saudaranya lebih dicintai.


Ketidakadilan Dapat Membekas Hingga Dewasa

Sebagian orang dewasa masih mengingat bagaimana dahulu ia merasa dibedakan dari saudaranya.

Kalimat seperti:

“Adik lebih disayang.”

atau:

“Kakak selalu disalahkan.”

dapat tinggal dalam ingatan bertahun-tahun.

Dalam kajian, kisah Nabi Yusuf alaihissalam dibahas sebagai pengingat tentang kuatnya kecemburuan antarsaudara. Saudara-saudara Yusuf menganggap ayah mereka lebih mencintai Yusuf, lalu kecemburuan itu mendorong mereka merencanakan keburukan.

Kisah tersebut tidak digunakan untuk menyalahkan Nabi Ya‘qub alaihissalam. Pelajaran yang diambil adalah bahwa persepsi anak tentang kasih sayang orang tua dapat memiliki dampak yang sangat kuat dan perlu ditangani dengan bijaksana.

Apabila seorang anak mulai berkata bahwa perlakuan orang tua terasa berbeda, jangan buru-buru membantah perasaannya.

Dengarkan, tanyakan contoh yang ia maksud, jelaskan alasan perbedaan apabila memang ada kebutuhan khusus, lalu perbaiki bagian yang tanpa sadar telah melukai hatinya.


Bersabar dalam Meluruskan Anak

Pendidikan tidak selalu menghasilkan perubahan dalam sehari.

Nabi Ya‘qub alaihissalam terus menghadapi dan membimbing putra-putranya dalam perjalanan yang panjang. Nabi Nuh alaihissalam tetap mengajak putranya naik ke kapal hingga saat-saat terakhir sebelum banjir memisahkan mereka.

Orang tua bertugas berusaha, menasihati dengan benar, memilih cara yang baik, dan terus mendoakan. Hidayah dan hasil akhirnya berada di tangan Allah.

Karena itu, jangan membangun pendidikan hanya melalui tuntutan:

“Hari ini diberi tahu, besok harus berubah.”

Ada kebiasaan yang membutuhkan penjelasan berulang. Ada sikap yang baru berubah setelah bertahun-tahun. Ada pondasi yang perlu diperkuat berkali-kali sebelum benar-benar melekat.

Kesabaran bukan berarti membiarkan kesalahan. Kesabaran berarti terus meluruskan tanpa kehilangan arah dan tanpa menuntut hasil di luar kemampuan manusia.


Pondasi 4 dari 8: Responsif terhadap Hak Anak

Anak Memiliki Hak yang Perlu Segera Direspons

Dalam kitab disebutkan al-istijabah li huquqil athfal, yaitu merespons hak-hak anak.

Hak anak tidak hanya berupa makanan, pakaian, dan biaya pendidikan.

Di dalam kajian disebutkan pula kebutuhan anak untuk:

  • didengar;
  • berkomunikasi;
  • bergaul dengan orang tuanya;
  • bermain;
  • mendapatkan pendidikan;
  • menerima perhatian;
  • dan memperoleh arahan.

Ketika anak datang berbicara sementara orang tua sedang menggunakan telepon, orang tua perlu menimbang mana yang lebih penting.

Tidak semua pekerjaan harus langsung dihentikan. Namun jangan terus-menerus menunda anak tanpa kepastian.

Jika memang belum bisa mendengar, orang tua dapat berkata dengan jelas:

“Ayah selesaikan ini lima menit, setelah itu Ayah dengarkan.”

Lalu tepati janji tersebut.

Responsif bukan berarti selalu menuruti keinginan anak. Responsif berarti menyadari kebutuhannya dan memberikan tanggapan yang layak, bukan mengabaikannya.


Bermain Bersama adalah Bagian dari Hak Anak

Anak membutuhkan teman bermain dan kebersamaan.

Apabila ia tidak mendapatkan ruang bermain dan berbicara di rumah, ia akan mencari keduanya di tempat lain. Pada masa sekarang, tempat itu sering kali berupa gim daring, grup percakapan, media sosial, atau pertemanan yang tidak diketahui orang tua.

Orang tua tidak harus menyediakan aktivitas yang mahal atau bermain berjam-jam.

Waktu singkat yang utuh dapat sangat berarti:

  • bermain bola;
  • membaca cerita;
  • menyusun mainan;
  • berjalan di sekitar rumah;
  • memasak bersama;
  • atau mengikuti permainan yang disukai anak.

Tujuannya bukan hanya menghibur. Bermain membangun hubungan, membuka percakapan, dan memberi orang tua kesempatan mengenal dunia anak.


Jika Rumah Tidak Mau Mendengar, Anak Akan Mencari Pendengar di Luar

Salah satu alasan anak atau anggota keluarga menceritakan masalah pribadi kepada orang luar adalah karena ia tidak menemukan pendengar yang baik di rumah.

Hal ini perlu menjadi peringatan.

Ketika kebutuhan untuk didengar terus diabaikan, anak mungkin mencarinya melalui:

  • teman yang belum tentu bijak;
  • orang asing di internet;
  • komunitas daring;
  • atau hubungan yang justru membahayakannya.

Orang tua tentu tidak akan mengetahui setiap percakapan anak. Namun hubungan yang hangat dan responsif dapat membuat rumah tetap menjadi tempat pertama yang ingin ia datangi ketika menghadapi masalah.

Sebuah capaian besar apabila seorang anak dapat berkata:

“Teman curhatku adalah ayahku.”

atau:

“Aku dapat bercerita kepada ibuku.”

Pondasi 5 dari 8: Membiasakan Mendoakan Anak

Doakan Kebaikan, Jangan Mendoakan Keburukan

Kesalehan, akhlak, dan perubahan hati anak terjadi dengan izin Allah.

Karena itu, pendidikan tidak boleh hanya bersandar kepada teknik, aturan, dan kemampuan orang tua. Orang tua perlu banyak berdoa, terutama pada waktu-waktu yang mustajab.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ

“Janganlah kalian mendoakan keburukan atas diri kalian, jangan pula atas anak-anak kalian, dan jangan pula atas harta kalian.”

HR. Muslim

Ucapan buruk yang keluar ketika marah tidak boleh dianggap ringan.

Sekalipun anak sedang sulit diarahkan, orang tua hendaknya menahan lisannya dan mengganti doa keburukan dengan permohonan hidayah, kebaikan, perlindungan, dan perbaikan akhlak.


Doa agar Keluarga Menjadi Penyejuk Mata

Allah mengajarkan doa:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.’”

QS. Al-Furqan: 74

Anak yang menjadi qurrata a‘yun merupakan anak yang kehadiran dan keadaannya menyejukkan pandangan orang tua karena kebaikannya.

Doa ini tidak hanya dibaca ketika anak bermasalah. Ia dibiasakan dalam keadaan lapang maupun sulit.

Rasulullah ﷺ juga mendoakan anak-anak dan para sahabat muda. Dalam kajian disebutkan doa beliau untuk Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma agar diberikan pemahaman agama, serta doa bagi Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

Ketika anak mendengar orang tuanya berdoa untuknya, ia bukan hanya menerima doa. Ia juga belajar bahwa kebaikan diminta kepada Allah dan bahwa orang tuanya menginginkan keselamatan dunia serta akhirat baginya.


Kasus dan Pertanyaan

Bagaimana Ayah yang Lelah Bekerja Dapat Tetap Menjadi Pendidik?

Keterbatasan waktu dan tenaga merupakan kenyataan yang perlu dihadapi dengan jujur. Namun kelelahan tidak menghapus amanah pendidikan.

Dalam sesi tanya jawab diberikan tiga arahan.

Perkuat Ilmu

Orang tua perlu memahami keutamaan sabar, pentingnya keluarga, cara berkomunikasi, serta besarnya amanah mendidik.

Dalam kisah Nabi Musa dan Khidir, Khidir berkata:

وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَىٰ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا

“Bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu yang belum engkau kuasai pengetahuannya?”

QS. Al-Kahfi: 68

Ayat tersebut dibahas untuk menunjukkan hubungan antara pengetahuan dan kesabaran. Seseorang lebih mudah bersabar ketika memahami nilai, tujuan, dan akibat dari sesuatu yang sedang dijalankannya.

Karena itu, ayah perlu terus belajar melalui buku, majelis ilmu, dan guru yang dapat membantunya memahami tugas keluarga.

Berlatih Secara Bertahap

Kelembutan dan kesabaran perlu dilatih.

Jangan menunggu memiliki energi sempurna atau waktu kosong yang panjang. Mulailah dari kebiasaan kecil yang dapat dijaga:

  • mendengar cerita anak selama beberapa menit sepulang kerja;
  • menanyakan satu hal tentang harinya;
  • menemani satu aktivitas;
  • atau menyediakan satu waktu khusus setiap pekan.

Setelah kebiasaan itu kuat, tambahkan secara bertahap.

Ketika Masuk Rumah, Hadir untuk Orang yang Berada di Rumah

Pekerjaan mungkin masih memenuhi pikiran. Namun keluarga membutuhkan peralihan yang disadari.

Orang tua dapat mengambil jeda singkat sebelum masuk, menenangkan diri, lalu berusaha hadir dengan perhatian yang tersisa. Durasi mungkin terbatas, tetapi perhatian yang utuh lebih berarti daripada waktu panjang yang terus terpecah oleh layar dan pekerjaan.

Selain itu, banyaklah memohon hidayah dan taufik kepada Allah. Tidak ada orang tua yang langsung sempurna. Setiap orang bertumbuh melalui ilmu, latihan, doa, dan perbaikan.


Bolehkah Memberikan Perlakuan Berbeda karena Kebutuhan Anak Berbeda?

Boleh memberikan perlakuan yang berbeda apabila kebutuhan anak memang berbeda.

Contohnya:

  • anak yang lebih kecil membutuhkan bantuan lebih banyak;
  • anak yang sakit membutuhkan perawatan khusus;
  • kebutuhan bekal dapat berbeda menurut usia dan aktivitas;
  • dan cara berbicara kepada anak kecil tentu berbeda dengan anak yang sudah dewasa.

Namun rasa cinta, kedekatan, kesempatan untuk didengar, dan penghormatan tidak boleh dibedakan secara zalim.

Orang tua juga perlu memperhatikan bagaimana perbedaan itu terlihat dari sudut pandang anak.

Apabila kakak mulai merasa kurang disayang karena adiknya lebih sering didekati, ajak ia berbicara. Dengarkan perasaannya, jelaskan alasan perlakuan yang berbeda, tetap sediakan waktu khusus untuknya, dan perbaiki sikap yang membuatnya merasa tersisih.

Adil berarti memberikan hak sesuai porsi, bukan menggunakan alasan “kebutuhannya berbeda” untuk membenarkan pilih kasih.


Orang Tua Masih Berproses, sedangkan Anak Terus Tumbuh. Apa yang Harus Dilakukan?

Anak memang tidak dapat “dijeda” sampai orang tuanya menjadi sempurna.

Namun orang tua juga tidak diperintahkan menunggu sempurna sebelum menjalankan amanah.

Dalam jawaban kajian disampaikan tiga keadaan yang pasti ditemui dalam kehidupan:

  1. 1ketika sesuatu berjalan lancar, responsnya adalah bersyukur dan meningkatkannya;
  2. 2ketika menghadapi kesulitan, responsnya adalah bersabar;
  3. 3ketika melakukan kesalahan, responsnya adalah segera memperbaiki, beristigfar, dan membenahi akibatnya.

Berproses bukan berarti mempelajari seluruh teori lebih dahulu, lalu baru mulai mendidik. Orang tua mempelajari ilmu yang paling dibutuhkan saat ini, mengamalkannya semampunya, dan terus menambah bekal.

Ketika salah kepada anak:

  • akui kesalahan;
  • minta maaf apabila diperlukan;
  • perbaiki tindakan;
  • beristigfar kepada Allah;
  • dan jangan menjadikan rasa bersalah sebagai alasan untuk berhenti.

Anak dapat belajar dari orang tua yang memperbaiki diri. Ia melihat bahwa manusia dapat salah, tetapi tidak harus mempertahankan kesalahan.


Refleksi

Bagian ini dapat direnungkan sendiri atau dibicarakan bersama pasangan.

Tentang Kehadiran sebagai Orang Tua

  • Apakah kami hadir setiap hari atau hanya muncul ketika anak bermasalah?
  • Apakah anak mengenal kehadiran kami sebagai sumber perhatian atau hanya teguran?
  • Apa yang sedang dipelajari, disukai, ditakuti, atau dihadapi anak saat ini?
  • Apakah kami mengetahui siapa yang paling memengaruhi dirinya?

Tentang Tarbiyah dan Ri‘ayah

  • Apakah selama ini kami merasa sudah mendidik hanya karena seluruh kebutuhan materi telah terpenuhi?
  • Bagian mana dari tarbiyah yang paling jarang kami lakukan: memperhatikan, mengawasi, mengembangkan, mengarahkan, meluruskan, atau memberi contoh?
  • Apakah sekolah dan pengasuh kami perlakukan sebagai mitra atau sebagai pengganti peran orang tua?

Tentang Hubungan dengan Anak

  • Apakah anak merasa aman untuk bercerita kepada kami?
  • Kapan terakhir kali kami melakukan sesuatu berdua dengan setiap anak?
  • Apakah hubungan kami cukup kuat untuk menjadi tempat sebuah nasihat disampaikan?
  • Adakah konflik lama yang belum pernah dibicarakan dengan tenang?

Tentang Kemampuan Mendengar

  • Ketika anak berbicara, apakah kami hanya mendengar suara atau benar-benar memperhatikan?
  • Apakah kami sering memotong karena merasa sudah tahu maksudnya?
  • Apakah kami menyiapkan bantahan sebelum anak selesai berbicara?
  • Apakah telepon lebih sering menerima tatapan kami daripada anak?
  • Mampukah kami diam, menyimak, dan berusaha memahami sebelum menjawab?

Tentang Cara Memberikan Nasihat

  • Apakah kami memanggil dan mendekati anak sebelum berbicara?
  • Apakah anak sering dikoreksi di depan saudara atau orang lain?
  • Apakah kami memberikan pembuka yang lembut sebelum masuk kepada kesalahannya?
  • Apakah kami memilih waktu ketika anak siap mendengar?

Tentang Keadilan

  • Apakah ada anak yang merasa kurang dicintai atau kurang didengar?
  • Apakah perbedaan perlakuan kami memang berasal dari kebutuhan atau dari kecenderungan pribadi?
  • Sudahkah alasan perbedaan itu dijelaskan kepada anak?
  • Apakah setiap anak memiliki kesempatan khusus untuk dekat dengan orang tuanya?

Tentang Hak Anak

  • Apakah anak mendapatkan waktu bermain bersama kami?
  • Ketika anak datang bercerita, apakah kami merespons atau selalu menundanya?
  • Apakah rumah menjadi tempat pertama anak mencari pertolongan?
  • Hak apa yang selama ini mungkin telah kami anggap remeh?

Tentang Doa

  • Apakah kami hanya mendoakan anak ketika ia bermasalah?
  • Doa apa yang rutin kami baca untuk kebaikan keluarga?
  • Pernahkah lisan kami mendoakan keburukan ketika marah?
  • Apakah anak pernah mendengar kami memohon kebaikan untuknya?

Tantangan Zaman Hari Ini

Bagian ini merupakan catatan kontekstual dari tim Deen Area, bukan kutipan langsung dari pemateri.

Orang Tua Hadir sebagai “Pemadam Kebakaran”

Kesibukan membuat interaksi keluarga mudah menyusut menjadi penanganan masalah.

Selama anak terlihat baik-baik saja, orang tua tidak banyak bertanya. Ketika nilai turun, sekolah memanggil, atau perilaku berubah, barulah perhatian diberikan secara intens.

Pola ini membuat kehadiran orang tua terasa identik dengan pemeriksaan dan teguran.

Kedekatan justru perlu dibangun pada hari-hari biasa, ketika tidak ada masalah besar yang harus diselesaikan.

Pemenuhan Materi Dianggap sebagai Seluruh Pendidikan

Orang tua bekerja keras agar anak dapat makan dengan baik, memiliki pakaian, dan bersekolah. Semua itu merupakan amanah yang mulia.

Namun hadiah, biaya sekolah, dan fasilitas tidak dapat menggantikan percakapan, pengawasan, keteladanan, dan waktu bersama.

Anak dapat memiliki banyak fasilitas tetapi tetap merasa tidak dikenal oleh orang tuanya.

Layar Mengambil Alih Peran Pendengar

Anak tidak berhenti membutuhkan tempat bercerita hanya karena orang tua sedang sibuk.

Jika rumah terus menunda, platform digital selalu siap merespons. Gim, media sosial, komunitas daring, dan orang asing dapat memberikan rasa diterima dengan sangat cepat.

Masalahnya, orang tua tidak selalu mengetahui nilai, tujuan, dan risiko yang dibawa oleh “pendengar” tersebut.

Karena itu, menyediakan telinga di rumah juga merupakan bentuk perlindungan.

Koreksi Berubah Menjadi Konten dan Candaan Keluarga

Kesalahan anak kadang diceritakan di grup keluarga, dijadikan bahan candaan, direkam, atau diunggah ke media sosial.

Orang tua mungkin menganggapnya lucu, tetapi anak dapat merasakan kehormatannya dibuka di depan banyak orang.

Nasihat yang pribadi tidak seharusnya berubah menjadi konsumsi publik.

Keadilan Diukur Hanya dari Jumlah Barang

Orang tua dapat memastikan setiap anak menerima hadiah dengan harga yang sama, tetapi belum tentu memberi waktu dan perhatian yang adil.

Sebaliknya, kebutuhan materi yang berbeda tidak selalu berarti ketidakadilan.

Keadilan perlu dilihat lebih luas: cinta, kedekatan, kesempatan berbicara, penghormatan, dukungan, dan pemenuhan kebutuhan setiap anak.

Rasa Bersalah Membuat Orang Tua Berhenti Bergerak

Paparan berbagai teori pengasuhan dapat membuat orang tua merasa selalu terlambat dan selalu salah.

Rasa bersalah seharusnya mengantar kepada taubat dan perbaikan, bukan kepada keputusasaan.

Anak tidak membutuhkan orang tua yang mengaku sempurna. Anak membutuhkan orang tua yang mau belajar, mengakui kekeliruan, memperbaiki diri, dan tetap hadir.


Pengamalan

  • Menentukan satu waktu singkat setiap hari untuk hadir dan berbicara dengan anak tanpa layar.
  • Menanyakan satu hal tentang hari anak ketika tidak sedang ada masalah.
  • Membedakan daftar kebutuhan ri‘ayah dan kebutuhan tarbiyah setiap anak.
  • Memilih satu aspek tarbiyah yang perlu diperkuat pekan ini: perhatian, pengawasan, pengembangan, pengarahan, pelurusan, atau keteladanan.
  • Menyediakan waktu khusus berdua dengan setiap anak secara bergiliran.
  • Melatih tidak memotong pembicaraan sampai anak menyelesaikan ceritanya.
  • Meletakkan telepon ketika anak menyampaikan sesuatu yang penting.
  • Mengulang kembali isi cerita anak dengan kalimat sendiri sebelum memberikan tanggapan.
  • Tidak menasihati, melaporkan kesalahan, atau mempermalukan anak di depan orang lain.
  • Membiasakan memanggil dan mendekati anak sebelum menyampaikan arahan.
  • Memberikan pengantar yang lembut sebelum mengoreksi kesalahan.
  • Menanyakan kepada setiap anak apakah ada perlakuan orang tua yang terasa tidak adil.
  • Menjelaskan alasan ketika kebutuhan membuat perlakuan kepada anak harus berbeda.
  • Menentukan satu kegiatan bermain sederhana bersama anak setiap pekan.
  • Menepati waktu yang dijanjikan ketika meminta anak menunggu untuk didengarkan.
  • Menghafal dan membiasakan doa dalam QS. Al-Furqan: 74.
  • Menahan lisan dari doa buruk ketika marah dan menggantinya dengan doa hidayah.
  • Memulai satu latihan kecil bagi ayah atau ibu yang sering pulang dalam keadaan lelah.
  • Ketika melakukan kesalahan kepada anak, segera mengakui, memperbaiki, dan meminta maaf bila diperlukan.
  • Mempelajari ilmu keluarga yang paling dibutuhkan pada fase anak saat ini.


Jangan berhenti di catatan ini

Simak kajian lengkap

Catatan ini pendamping untuk mengingat. Simak rekaman utuh agar konteks dan contoh dari ustadz dapat dipahami sepenuhnya.

Tonton Rekaman Kajian

Follow Channel WhatsApp Deen Area

Follow Channel WhatsApp Deen Area untuk informasi kajian selanjutnya.

Follow Channel WhatsApp

Web Book gratis

Catatan dan materi bermanfaat lainnya.

Buka koleksi

Web App Islami

Tools sederhana untuk ibadah harian.

Buka koleksi

Dukung seikhlasnya

Ikut menjaga keberlanjutan kajian, konten, web book, dan web app gratis.

Dukung Program Deen Area

Deen Area — Ikhtiar kecil untuk kaum muslimin